Latest: Download Free Desktop Wallpapers of Chef Loony! | Series: AuthorRank? | Download MBT eBooks!

أخوتان في الله

4 komentar

“Nice to meet you” kata seorang perempuan menyapaku di kursi tunggu Island hospital.

“Oh , so do I “ jawabku menatapnya sekilas.

“Kamu orang Indonesia?” tanyanya.

“Deg…….. Kenapa tiba-tiba bahasa Indonesia…”Gumamku dalam hati

“Eh.. emh , iya. Kamu… orang India ya ?” jawabku sambil tersenyum.

“Iya,tapi ibuku orang Indonesia” jawabnya singkat

“Kamu ngapain disini ? “

“Berobat .kalau kamu ?”

“Sama …”

“Kenapa kau menggunakan jilbab ?” tanyanya mendekati wajahku

“Karena disuruh Allah …” jawabku sembari beranjak dari kursi tunggu dan memberi senyum padanya dari kejauhan .

Dia hanya menatapku dan mengikuti gerak langkah kakiku. Aku tahu, tersimpan beberapa pertanyaan darinya untukku. Maka dari itu, aku berjalan menjauhinya dan berjalan menuju ibuku yang sedang duduk dikursi yang berada didekat Penjualan roti di Island Hospital. Aku dan ibuku menukar uang di moneychange. Antrian pun tak kunjung selesai, antrian nomor 43  terasa sangat lama bagiku. Aku dan ibuku pergi makan siang sejenak di Canteen Island Hospital. Aku dipaksa untuk makan nasi, dan makan sayur dan segalanya yang bergizi. Ibuku tetap bersikeras dan  memaksaku untuk tetap makan. Aku tertunduk dan pasrah apa yang dibeli oleh ibuku, ibuku datang dengan membawa nasi berlauk ikan padaku. Wajahnya penuh kasih, senyumnya tulus tertuju padaku. Namun ia cerewet, tapi penuh kasih sayang dan aku mengakui itu. Aku mencuri pandang kepada ibuku ketika melahap nasi. Terbesit keinginan membuatnya tersenyum dan menghentikan keheningan ini. Tetapi tak bisa, aku tetap menatapnya dan timbul rasa haru dari hatiku.

“Cepat dimakan nasinya, mau dipanggil ni”Ibuku menghentikan lamunanku.

“Iya, Umi.”

Setelah makan, aku dan ibuku kembali menunggu antrian. Begitu sampai di depan ruang tunggu kami langsung di panggil. Benar-benar suatu keberuntungan, memanglah badai pasti berlalu. Tak mungkin aku hanya menunggu saja dan tidak akan di panggil. Aku kemudian memasuki ruang dokter, sedikit gugup namun terhenti karena senyum seorang bapak sedikit sipit yang menghentikan ketidak nyamanan hati ini. Aku, tidak tau harus memulai menjelaskan dari mana. Ibuku menjelaskan semua gejala yang aku alami, dokter itu hanya mengiyakan dan memberikan surat yang mengharuskan aku untuk di cek darah , urin, dan endoskopi. Aku dan ibuku berjalan keluar ruangan dan belum puas begitu saja dengan obat yang diberikan. Timbul pertanyaan yang memenuhi relung hati….. Sakit apa sebenarnya.

“Taksi….”Lambai tangan ibuku kearah jalan.

Sembari melihat pemandangan kearah yang dibatasi kaca mobil taksi ini, pikiran ku melayang mengingat ayahku dirumah. Apa kabarnya ya ? adikku juga, Syuhada Lucu sekali jika mengingatnya menangis ketika aku akan pergi. Padahal, dirinya sangat tidak suka padaku. Adikku, dan ayahku..ditinggal oleh aku dan ibuku. Tentang teman-temanku di SMP dulu, apa kabar mereka? aku telah meliburkan sekolah selama 2 bulan lamanya , dan setelah pembagian ijazah pun aku tak ikut serta dalam acara perpisahan. Rindukah mereka padaku ?

Pikiranku kemudian terhenti ketika mata ku tiba-tiba menangkap sesosok anak yang tak asing dimataku. Anak ini…….. aku mulai memutar memoriku kebelakang. Yap.. Ah dia ! anak perempuan yang aku jumpai di Island hospital ! ia sedang memainkan layang-layang bersama teman-temannya didekat warung Aceh yang jaraknya tidak seberapa jauh dari apartemen ku.

“umi, coba lihat anak itu ! tadi dirumah sakit dia nanya sama kiki, kenapa Kiki pake jilbab? Kiki jawab kaya yang umi bilang.” Kataku antusias

“Emangnya, apa yang umi katakan?”

“ah umi,kan umi bilang karena Allah suruh. Dulu kiki yang nanya sama umi begini”

“Hahahah, dia mana mengerti jika Kiki jawab seperti itu.Kenapa gak jawab aja karena pake jilbab itu kita jadi cantik kaya Kiki sekarang ini ? coba lihat mereka, tidak cantik sedikit pun kan. Rambutnya kusam, dan selalu diterpa angin dan debu.” jawab ibuku sambil mengelus lembut pipiku.

“Umi…. Yang benar lah. Sebenarnya pake jilbab itu untuk apa ?”

“nanti umi katakan. Sampai rumah ya..”

“aahh.. umi !sekarang ajaaa”

Ibuku kemudian mendekatiku dan berbisik “nanti kedengaran supirnya”.

Aku tersenyum geli melihat ibuku yang mencoba melucu padaku. Percakapan kami pun berhenti saat mobil taksi memakirkan mobil didepan sebuah apartemen penginapan kami, apartemen ini berukuran sedang. Di negeri Jiran ini, apartemen adalah  milik Negara. Jika penduduk Negara lain yang datang ia tidak bisa membelinya, ia harus menjadi warga Negara disini. Oleh karena itu, siapapun yang datang kenegeri ini harus menyewa dengan warga asli disini yang mempunyai apartemen.Walaupun begitu, aku sangat menyukai apartemen ini. Selain tempatnya strategis, disini juga nyaman dan aman. Aku tiba didepan kamar 21, aku langsung meletakkan barang-barangku dan merebahkan tubuhku disofa. Ngantuk sekali… perjalanan yang panjang diantrian. Hoaamm, aku pun tertidur pulas.

“Bangun dulu ! shalat zuhur” shalat dzuhur baru tidur lagi.

“aduh, iya..”

Aku bangun kembali dan mengambil wudhu, karena ngantuk sekali aku menyelesaikan tidurku dikamar dan tidak jadi shalat. Sedangkan ibuku sedang membereskan baju dilemari dekat dengan ruangan tv dan tentu saja ibuku tidak akan melihatku. Hahaha ..haahh.. Nyenyak sekali…




Huaam…. Aku terbangun dari tidurku dan mencari jam dari pandanganku. Pening sekali rasanya, dari luar jendela tampak gelap. Jam berapa ini ? aku  keluar dan mencari jam. Belum sempat aku melihat jam, aku terperangah melihat ibuku sedang tergeletak dilantai. Aku sebagai anaknya walaupun tidak terlalu berbakti kepada orang tua tentu akan merasakan ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Aku berlari keluar untuk memanggil seseorang, terlihat seorang wanita tengah berdiri didekat tiang listrik diluar apartemen. Aku memanggil ibu tersebut dan meminta bantuan padanya dengan tergesa-gesa. Kemudian beliau mengangguk mengiyakan untuk menolongku, kemudian beliau menenangkanku. Setelah itu baru kami berdua berjalan keruang apartemenku. Ibu itu menelpon seseorang , sepertinya suami dari beliau. Setelah beberapa lama kami menunggu, suami ibu tersebut datang kepada kami berdua yang tengah berada disamping ibuku. Tanpa berbicara panjang, suami dari ibu tersebut mengangkat ibuku dan membawa ibuku kemobil. Aku sangat bersyukur, bersyukur… sekali.

Kami tiba dirumah sakit yang kemarin telah aku datangi, suster kemudian memasang impus dipergelangan tangan ibuku. Aku menatap ibuku  sedang memejamkan mata…  Ibuku, sakit apa ? kenapa tiba-tiba seperti ini. Air mataku jatuh perlahan melihat ibuku tertidur.

“Umi..bangunlah !aku sendiri. Tak ada yang aku kenal disini, aku takut umi.”Jeritku dalam hati

Isakku semakin kuat dan membesar, aku tidak menghiraukan siapa yang datang dan terus menangis disamping kasur ibuku. Ibuku telah diimpus, bagaimana ibuku bisa membantu mengobatiku yang sedang sakit ? aku juga tengah sakit, tulangku yang belum beres, mataku yang masih berdarah, dan penyakitku, belum terobati.

“………………” aku merasakan sentuhan menepuk pundakku.

aku kemudian menoleh dan melihat senyuman sesosok gadis berambut hitam lebat , kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam. Ia tersenyum padaku yang aku tak tahu makna dari senyuman itu. .

“kau tidak sopan ya ?”cetusnya menghilangkan lamunku.

“apa maksudmu ?” suaraku masih bergetar, aku pun menghentikan tangisku.

“kau pergi tanpa berpamitan denganku dan membuatku penasaran dengan apa yang kau katakan diujung percakapan kita”

“Oh, aku hanya tak ingin  berbicara lebih banyak denganmu.”

“oke tak masalah , sebagai imbalan dari aku yang telah menolongmu. Maka nanti, jawablah apa yang aku tanyakan padamu”

“Aku tidak bisa….”

“tidak bisa ? what the fuck”

“ Kenapa kau marah ? Hey ! jaga omonganmu.”jawaku dengan nada sedikit tinggi

“ kau muslim, tetapi tidak tahu ? HAH ! agama omong kosong belaka. Hanya mencari sensasi, pangkat dalam dunia, dan apalah ! saran dariku, lebih baik kau tinggalkan saja agamamu. Menghabiskan waktumu saja, shalat 5 waktu tetapi buat apa ? Sia-sia saja kau hidup”ketusnya

“Hey ! aku tidak belajar di sekolah beragama. Jadi wajar saja kalau aku tidak tahu, kalau kamu mau tahu tentang agama ya cari sendiri sana ! saya bukan ustazah.”

“Ustazah ?? oke, oke.. terserah apa itu ustazah. Dan apa itu muslim dan sebagainya”

Perempuan itu kemudian keluar dari kamar IS. Tampak dari jalannya dia sedang marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku merasa bersalah, kenapa aku perlu merasa bersalah ? Ah tidak , bukanlah urusanku dengannya dan aku tidak mengenalnya.

“tidak bisa……” aku memandang ibuku dan berfikir sejenak.

Aku beranjak dari kursi dan berlari menuju perempuan itu, mataku tak menangkap bayangannya. Terlihat beberapa mobil didepan IS dan pemandangan yang indah disekitarnya. Aku tidak mendapati wanita itu, aku tidak bisa membiarkan rasa bersalahku terus mengelabui roh ini. Aku terus berjalan dan sesekali berlari kecil mencari wanita itu.

“Cari siapa ?”terdengar suara wanita di belakangku.

 “Eh.. Emh anu…. A.. aku… mau mencari nasi untuk ibuku” Jawabku gugup sembari melihat nasi bungkus yang berada ditangannya.

“mereka tak bisa kemari karena ada urusan, aku disuruh datang kemari untuk menemanimu.”

“Oh..kau saja temani aku untuk beli nasi untuk ibuku !”

“ah.. kau ini bagaimana ? nasi untuk orang sakit kan sudah disiapkan dirumah sakit. Kau tak pernah kerumah sakit ya?”

“oh iya ya, hehehe” tawaku malu.

Aku kemudian terdiam dan menatap jalanan yang kosong, pikiranku juga ikutan kosong. Ngapain aku dan dia sekarang ?

“Dug….”

Tiba-tiba tangannya menggenggamku yang sedang termenung dan berjalan tanpa berbicara apapun. Aku terus bertanya padanya, kemana dia akanmembawaku. Dia tidak melepaskanku dan tetap berjalan tanpa menghiraukan aku. Aku hanya menuruti langkah kakinya yang terus berjalan kearah yang tidak bisa dicerna oleh otakku. Tiba-tiba ia berhenti dan menyuruhku menunggunya didekat warung pinggiran jalan. Sepertinya itu adalah warung Aceh, dia tahu sekali kalau aku orang Aceh. Dari mana ?padahal aku tak pernah memberi tahunya. Dia kemudian membeli nasi bungkus dan kembali menghampiriku.

“ayo makan !” ajaknya sambil berjalan mendahuluiku

“hei tunggu ! mau kemana ? “

Dia tak menjawabku dan terus berjalan , aku menyamakan posisiku dan dia agar tidak tersesat. Bagaimana bisa dia tega berjalan mendahuluiku sedangkan aku ketakutan di Negara ini. Dia terus berjalan dan menaiki sebuah tangga dipinggiran jalan.Tangga ini mengarahkan langkah kaki aku dan dia kearah ujung jalan sebelah kanan, terdapat beberapa orang sedang berdiri di tengah langit dan bumi di atas jalan tersebut. Aku tetap mengikutinya dan terus berjalan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Cantik..bintangnya. Aku terkesan melihat bintang dilangit berjejeran seakan membentuk sebuah rasi bintang bermakna. Mobil yang berada dibawah jembatan ini juga indah, udara yang menelusuri pori-poriku membuat buluku berdiri dan siap untuk bertempur dengan hawa dingin ini. Orang-orang yang sedang bergerak dibawah jembatan ini seperti sedang memerankan sebuh drama suatu kisah. Aku masih merasa segan padanya dengan apa yang dikatakannya ketika aku dan dia berada di rumah sakit. Dia mengajakku untuk mengasingkan diri dari beberapa orang tersebut untuk makan ditempat ini sambil menikmati pemandangan yang ada.

“Agamamu apa ?” tanyaku memecahkan suasana.

“aku Atheis, orang tuaku berbeda agama. Jadi aku disuruh memilih sendiri agamaku ketika sudah besar nanti”jawabnya santai dan tak terlihat marah.

“oh.. begitu ya, kalau orangtuamu ?”

“ibuku islam seperti mu, dan ayahku budha. Ia tidak mengetahui tentang agamanya sama halnya sepertimu, hanya saja kau dan ibuku berbeda pada kerudung”

“katanya islam, kenapa gak pakai jilbab ?” tanyaku heran

“kalau tidak tahu tujuannya untuk apa ngapain dilaksanakan ? Buang-buang diri, buang-buang tenaga, dan buang-buang waktu. Lagi pula kalau dipikir-pikir rambut itu mahkota.”

“bukan mahkota, tapi aurat..

“ Aurat ? “ tatapannya seperti menginginkan penjelasanku.

“sesuatu yang berharga dan harus ditutupi dan dijaga atas penciptaan yang indah ini”

“………………….”

“Kau percaya adanya tuhan ? kenapa kau penasaran sekali ? ”

“tentu ! kalau aku bertanya pada diriku siapa yang menciptakan langit dan bumi ? tentu Tuhan. Akan tetapi, Jika aku amati agama ibuku dan ayahku. Mereka sama-sama mempunyai alasan bagi agamanya sendiri. Kalau islam tuhannya tidak begitu jelas,  jika Budha mereka menyembah Tuhannya melalui patung yang diciptakan manusia dan bisa dihancurkan kembali oleh manusia. Tidak mungkin manusia menciptakan Tuhannya.” jelasnya

“jika kau ingin mencari kebenaran, cari tahu keduanya. Cari tahu Budha dan islam juga agama yang lainnya. Kau akan mengetahui mana yang benar dan yang salah”Saranku sembali beranjak membuang bungkusan nasi.

Dia meminta padaku agar dia diajarkan tentang islam. Sangat merepotkan, namun aku sangat senang. Dia mau belajar islam, semoga saja jadi muallaf. Wah ! hebat sekali aku ! Tetapi aku juga belum mengetahui islam secara menyeluruh dan sempurna. Aku kemudian menatapnya lama dan tersenyum…

“ayo kita belajar islam bersama !

Ia menatapku heran dan akhirnya tersenyum juga. Tak bisa ku bayangkan, bertemu seseorang yang atheis dan aku mengajarkannya islam. Aku dan perempuan ini kemudian kembali kerumah sakit, orangtuanya ternyata telah tiba dirumah sakit. Ia dan orangtuanya kemudian pergi meninggalkan aku dan ibuku. Ruangan yang sempat terjadi pertengkaran kecil ini menjadi sepi .

“Umi sakit apa ? Dimana sakitnya ?”tanyaku agak sedikit malu.

Aku tidak begitu dekat dengan orang tuaku, masa SMP ku sering aku lewatkan bersama teman-teman untuk bercanda.. Bukan karena orangtuaku sibuk, namun aku tidak merasa nyaman dirumah. Orangtua hanya menjelaskan opini mereka dan tidak menerima penjelasan balik dari anaknya. Ketika di jawab, dibilang membantah. Namun ketika diam, dikira tidak mendengar. Jadi wajar saja jika aku tidak begitu terbiasa dengan suasana seperti ini.

“Umi.. Sehat, mungkin tadi pusing setelah itu pingsan”

“Umi. anak dari orangtua yang tadi itu agamanya atheis lho. Yang kiki ceritain itu, dia nanya sama kiki kenapa harus pakai jilbab. Karena ibunya islam juga, Cuma ibunya berbeda dengan kita karena kita menggunakan kerudung. Katanya dia mau belajar islam, tapi Kiki gak tau banyak tentang islam.”

Ibuku tersenyum lalu meneteskan airmata.Lalu berkata

“Salahkan Umi… Ki.Seharusnya dari dulu Kiki masuk pasantren. Dan tidak membiarkan Umi mengikuti kemauan Kiki untuk masuk ke sekolah tidak beragama dan tterdidik dengan akhlak yang buruk.”

“Enggak Ah, Pasantren itu tidak menyenangkan sedikitpun. Bisa-bisa Kiki stress masuk kesana karena terkurung dan terus-terusan berhadapan dengan buku dan aktivitas.”

 “Tapi harus ! Tamat dari sini harus ke pasantren ! Umi sudah bicara pada Ayah dan kamu tetap akan di masukkan kedalam pasanten yang ada disini”

“Aku tidak mau Umi ! Kenapa dulu selalu memaksa kehendak orang lain ! Bisanya suruh-suruh saja. Aku yang menjalaninya umi, aku tidak sanggup.. tidak sanggup…”

Ibuku terdiam dan meneteskan airmatanya, ibuku memandangku dengan tatapan sedih.

“Sekali saja Nak.. Umi sayang Kiki, ketika SMP Umi ikuti kemauan Kiki untuk memilih sekolah semau Kiki dan hasilnya buruk Nak. Belajarlah agama Kiki.. Kamu akan bahagia didunia dan di akhirat. Bukan untuk Umi, untuk bekal Kiki ketika meninggal. Tak ada, tak ada lain yang akan dibawa kecuali amal baik. Bukan harta, bukan teman, bukan umi atau siapapun yang Kiki cintai didunia. Jika Kiki sudah besar, Kiki harus bisa jadi da’iah dan menyeru islam dengan benar dan menjadi sosok pahlawan perempuan didunia Islam. Mulai saja dari yang kecil, kalau mengajarkan seorang Atheis dengan Islam bessaaaar sekali pahalanya ! Umi akan bangga sekali”

 Aku hanya terdiam dan menatap ibuku haru, hatiku terasa sejuk karena penjelasan ibuku yang begitu lembut dan membuat keputusanku sedikit berubah.

“Kiki … Belum tahu. Akan Kiki fikirkan nanti”

Sinar datang menerangi pandangan gelapku yang diselimuti kelopak mata berbulu panjang ini. Udara sejuk nan segar menghampiri pori-poriku dan menyentuh kulitku dengan lembut.. Lembut.. sekali.  Sedikit dingin, aku ingin berselimut.. Tidak ada , tidak ada selimut disini. Akupun terbangun dari tidurku dan mencari segelas air untukku teguk.  Hari ini aku bangun dengan segar, tak biasanya aku seperti ini. Aku mempunyai firasat baik hari ini, dinginnya AC membuat aku terkantuk lagi. Aku berjalan menuju meja yang terletak tak jauh dari kasur tidur di rumah sakit. Meraih 1 gelas air dan meminumnya, ibuku tampak masih tertidur pulas. Setelah meminum segelas air, aku kemudian tidur kembali melanjutkan kisah yang menyenangkan antara aku dan ibuku disebuah tempat yang takku tau tempatnya. Indah sekali, terdapat air terjun dan beberapa angsa yang dikelilingi kupu-kupu disungai tersebut. Kupu-kupunya juga mengelilingi pohon hijau yang besar dan subur.Ibuku mengenakan baju putih dan jilbab biru, jilbab rabbani yang biasa ibuku gunakan.Semuanya terasa nyata, sentuhan ibuku padaku memang terasa sekali. Aku dan ibuku duduk di dekat sungai ini dan memakan beberapa makanan yang sangat enak. Banyak sekali makanan yang aku suka ! cokelat, Jus, Roti cokelat… Waw ! aku tak ingin keluar dari mimpiku yang indah ini. Tak ingin, pokoknya aku tak ingin keluar lagi.. Tetap teruskan lagi mimpinyaaa !!

“Kiki, umi pergi dulu ya. Jangan lupa shalat ! mengaji setiap habis magrib dan belajar. Makan yang teratur ya Kiki. Umi sayang anak umi Putri rizqia suci “

“tunggu dulu umi … ! umi !!umi……………”

Ibuku terus berjalan tanpa berbalik kebelakang, aku kemudian memanggil ibuku dan mengejarnya. Tapi, ibuku tetap terus berjalan… Aku tersandung batu kecil yang membuatku beralih pandangan ke arah lain. Ibuku ! \aku kehilangan jejak ibuku. Kemana ibuku pergi ? aku berlari kesekitar hutan dan menarik nafasku dengan cepat, kencang sekali aku berlari.  Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, aku tak tau berasal dari mana suara itu.Suara itu memenuhi telingaku, membuat kupingku terasa sakit.

Akupun terhenyak dari tidur ku, mimpi yang indah berubah menjadi sesuatu yang membuat perasaanku gelisah.Dengan perasaan gelisah, aku membangunkan ibuku yang masih tertidur.

“umi … umi… bangun… udah siang”

“umi…. Bangun…”

“Umi……..”

“umi… bangun dulu ..umi… ! “

Aku terdiam dan menatap ibuku lama, aku meletakkan kepalaku didada ibuku. Aku tak mendengar apapun disana. Dimana jantungnya ?

aku berjalan perlahan, sangat pelan keluar kamar dan meneteskan air mata, apa yang terjadi dengan ibuku ?  Tidak mungkin, Argghhh….  Hayalan tingkat tinggiku muncul. Tidak.. tidak… ibuku baik-baik saja. Tiba-tiba air mataku jatuh dan membuat hatiku semakin risau. Semakin aku mengelak bahwa ibuku tiada, semakin tersiksa batinku. Aku menutup pintu kamar dan terduduk didepan pintu kamar rumah sakit. Tiba-tiba dokter datang ingin memeriksa ibuku, aku menghadangnya dan tidak mengizinkan dokter itu mengambil ibuku.

“dokter.. umi lagi tidur. Dia capek tidak boleh diganggu”hadangku.

“iya, tapi uminya harus dikasih obat biar dcepat sembuh ya”dokter mencoba melewatiku

“tidak !!! tidak boleh diganggu ! tidak boleh ada yang masuk satu pun !!!” aku berteriak dan menahan pintu dengan badanku.

Suster menarik badanku dan menyuruh dokter lekas masuk.Tangisku semakin besar dan melengking keseluruh ruangan rumah sakit ini. Suster menarikku dan tidak mengizinkan aku masuk melihat ibuku. Aku terus memberontak dan berteriak melihat dokter menutup mata ibuku dan membawanya keruang jenazah.

 “hiks…………………………. “



Dunia seakan memojokkanku, aku seakan tidak berarti lagi didunia ini. Aku kehilangan ibuku, ibu satu-satunya dan tak akan bisa diganti oleh ibu manapun. Aku masih mempunyai banyak dosa dan kesalahan pada ibuku. Belum sempat aku mengucapkan kata maaf dan membahagiakannya. Ya Allah, tempatkanlah ibuku ditempat yang paling indah. Di tempat ia bisa tersenyum karena amalam baiknya. Kini ia akan sendiri didalam kubur dan berteman sepi dengan beberapa binatang didalam kubur. Aku tak bisa membayangkan hidup ibuku kelak, bagaimana kehidupanya sendiri dibawah tanah. Hilang semua harta, hanya sisa tubuhnya yang dipenuhi ulat belulat. Jangan siksa ia ya Allah, tolong.. Aku janji akan menjadi anak yang Sholehah.. Tapi jangan siksa ibuku… Duhai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. “Amin..”

Beberapa saat kemudian, ayahku dan adikku datang sambil menangis menghampiri ibuku. Aku yang berada disamping ibuku mengusap airmatanya dan berkata ”tidak apa-apa. Kita masih punya Ayah..“ aku memeluk adikku dengan erat. Adikku baru berumur 4 tahun dan baru saja masuk TK. Seharusnya aku bersyukur, aku dapat bersama ibuku dan melihat wajah ibuku selama 16 tahun. Tetapi, aku hanya menyianyiakan kehadirannya……………………………..


4 komentar:

  • MBT Icons and buttons

    Icons and Buttons

    Our resources have been successfully downloaded over 10K times and found almost every where. Get yours!

  • choosing webhost for a blog

    Why HostGator?

    Learn Why we chose HostGator as our Web Host and find discount coupons to kick start your blog today!

  • SEO Settings for blogger

    ALL IN ONE SEO PACK 2012

    Learn every single SEO tip that will boost your blog's ranking and organic traffic. We got them all!

  • Blogger widgets and plugins

    Visit MBT's Blogger LAB

    Why not take a tour of all great Blogger widgets published so far? You Name it we have it!

  • become a six figure blogger!

    Become a SIX FIGURE BLOGGER

    Learn what it takes to become a successful entrepreneur and build a living online!