“Nice
to meet you” kata seorang perempuan menyapaku di kursi tunggu Island hospital.
“Oh
, so do I “ jawabku menatapnya sekilas.
“Kamu
orang Indonesia?” tanyanya.
“Deg…….. Kenapa
tiba-tiba bahasa Indonesia…”Gumamku dalam hati
“Eh..
emh , iya. Kamu… orang India ya ?” jawabku sambil tersenyum.
“Iya,tapi
ibuku orang Indonesia” jawabnya singkat
“Kamu ngapain disini ? “
“Berobat
.kalau kamu ?”
“Kenapa
kau menggunakan jilbab ?” tanyanya mendekati wajahku
“Karena
disuruh Allah …” jawabku sembari beranjak dari kursi tunggu dan memberi senyum
padanya dari kejauhan .
Dia
hanya menatapku dan mengikuti gerak langkah kakiku. Aku tahu, tersimpan
beberapa pertanyaan darinya untukku. Maka dari itu, aku berjalan menjauhinya
dan berjalan menuju ibuku yang sedang duduk dikursi yang berada didekat
Penjualan roti di Island Hospital. Aku dan ibuku menukar uang di moneychange. Antrian
pun tak kunjung selesai, antrian nomor 43 terasa sangat lama bagiku. Aku dan ibuku pergi
makan siang sejenak di Canteen Island Hospital. Aku dipaksa untuk makan nasi,
dan makan sayur dan segalanya yang bergizi. Ibuku tetap bersikeras dan memaksaku untuk tetap makan. Aku tertunduk
dan pasrah apa yang dibeli oleh ibuku, ibuku datang dengan membawa nasi berlauk
ikan padaku. Wajahnya penuh kasih, senyumnya tulus tertuju padaku. Namun ia
cerewet, tapi penuh kasih sayang dan aku mengakui itu. Aku mencuri pandang
kepada ibuku ketika melahap nasi. Terbesit keinginan membuatnya tersenyum dan
menghentikan keheningan ini. Tetapi tak bisa, aku tetap menatapnya dan timbul
rasa haru dari hatiku.
“Cepat
dimakan nasinya, mau dipanggil ni”Ibuku menghentikan lamunanku.
“Iya,
Umi.”
Setelah
makan, aku dan ibuku kembali menunggu antrian. Begitu sampai di depan ruang
tunggu kami langsung di panggil. Benar-benar suatu keberuntungan, memanglah
badai pasti berlalu. Tak mungkin aku hanya menunggu saja dan tidak akan di
panggil. Aku kemudian memasuki ruang dokter, sedikit gugup namun terhenti
karena senyum seorang bapak sedikit sipit yang menghentikan ketidak nyamanan
hati ini. Aku, tidak tau harus memulai menjelaskan dari mana. Ibuku menjelaskan
semua gejala yang aku alami, dokter itu hanya mengiyakan dan memberikan surat
yang mengharuskan aku untuk di cek darah , urin, dan endoskopi. Aku dan ibuku
berjalan keluar ruangan dan belum puas begitu saja dengan obat yang diberikan.
Timbul pertanyaan yang memenuhi relung hati….. Sakit apa sebenarnya.
“Taksi….”Lambai
tangan ibuku kearah jalan.
Sembari
melihat pemandangan kearah yang dibatasi kaca mobil taksi ini, pikiran ku
melayang mengingat ayahku dirumah. Apa kabarnya ya ? adikku juga, Syuhada Lucu
sekali jika mengingatnya menangis ketika aku akan pergi. Padahal, dirinya
sangat tidak suka padaku. Adikku, dan ayahku..ditinggal oleh aku dan ibuku. Tentang
teman-temanku di SMP dulu, apa kabar mereka? aku telah meliburkan sekolah
selama 2 bulan lamanya , dan setelah pembagian ijazah pun aku tak ikut serta
dalam acara perpisahan. Rindukah mereka padaku ?
Pikiranku
kemudian terhenti ketika mata ku tiba-tiba menangkap sesosok anak yang tak
asing dimataku. Anak ini…….. aku mulai memutar memoriku kebelakang. Yap.. Ah
dia ! anak perempuan yang aku jumpai di Island hospital ! ia sedang memainkan
layang-layang bersama teman-temannya didekat warung Aceh yang jaraknya tidak
seberapa jauh dari apartemen ku.
“umi,
coba lihat anak itu ! tadi dirumah sakit dia nanya sama kiki, kenapa Kiki pake
jilbab? Kiki jawab kaya yang umi bilang.” Kataku antusias
“Emangnya,
apa yang umi katakan?”
“ah
umi,kan umi bilang karena Allah suruh. Dulu kiki yang nanya sama umi begini”
“Hahahah,
dia mana mengerti jika Kiki jawab seperti itu.Kenapa gak jawab aja karena pake
jilbab itu kita jadi cantik kaya Kiki sekarang ini ? coba lihat mereka, tidak
cantik sedikit pun kan. Rambutnya kusam, dan selalu diterpa angin dan debu.”
jawab ibuku sambil mengelus lembut pipiku.
“Umi….
Yang benar lah. Sebenarnya pake jilbab itu untuk apa ?”
“nanti
umi katakan. Sampai rumah ya..”
“aahh..
umi !sekarang ajaaa”
Ibuku
kemudian mendekatiku dan berbisik “nanti kedengaran supirnya”.
Aku
tersenyum geli melihat ibuku yang mencoba melucu padaku. Percakapan kami pun
berhenti saat mobil taksi memakirkan mobil didepan sebuah apartemen penginapan
kami, apartemen ini berukuran sedang. Di negeri Jiran ini, apartemen adalah milik Negara. Jika penduduk Negara lain yang
datang ia tidak bisa membelinya, ia harus menjadi warga Negara disini. Oleh
karena itu, siapapun yang datang kenegeri ini harus menyewa dengan warga asli
disini yang mempunyai apartemen.Walaupun begitu, aku sangat menyukai apartemen
ini. Selain tempatnya strategis, disini juga nyaman dan aman. Aku tiba didepan kamar
21, aku langsung meletakkan barang-barangku dan merebahkan tubuhku disofa. Ngantuk
sekali… perjalanan yang panjang diantrian. Hoaamm, aku pun tertidur pulas.
“Bangun
dulu ! shalat zuhur” shalat dzuhur baru tidur lagi.
“aduh,
iya..”
Aku
bangun kembali dan mengambil wudhu, karena ngantuk sekali aku menyelesaikan
tidurku dikamar dan tidak jadi shalat. Sedangkan ibuku sedang membereskan baju
dilemari dekat dengan ruangan tv dan tentu saja ibuku tidak akan melihatku. Hahaha
..haahh.. Nyenyak sekali…
Huaam….
Aku terbangun dari tidurku dan mencari jam dari pandanganku. Pening sekali
rasanya, dari luar jendela tampak gelap. Jam berapa ini ? aku keluar dan mencari jam. Belum sempat aku
melihat jam, aku terperangah melihat ibuku sedang tergeletak dilantai. Aku
sebagai anaknya walaupun tidak terlalu berbakti kepada orang tua tentu akan
merasakan ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Aku berlari keluar untuk
memanggil seseorang, terlihat seorang wanita tengah berdiri didekat tiang
listrik diluar apartemen. Aku memanggil ibu tersebut dan meminta bantuan
padanya dengan tergesa-gesa. Kemudian beliau mengangguk mengiyakan untuk
menolongku, kemudian beliau menenangkanku. Setelah itu baru kami berdua
berjalan keruang apartemenku. Ibu itu menelpon seseorang , sepertinya suami
dari beliau. Setelah beberapa lama kami menunggu, suami ibu tersebut datang
kepada kami berdua yang tengah berada disamping ibuku. Tanpa berbicara panjang,
suami dari ibu tersebut mengangkat ibuku dan membawa ibuku kemobil. Aku sangat
bersyukur, bersyukur… sekali.
Kami
tiba dirumah sakit yang kemarin telah aku datangi, suster kemudian memasang
impus dipergelangan tangan ibuku. Aku menatap ibuku sedang memejamkan mata… Ibuku, sakit apa ? kenapa tiba-tiba seperti
ini. Air mataku jatuh perlahan melihat ibuku tertidur.
“Umi..bangunlah
!aku sendiri. Tak ada yang aku kenal disini, aku takut umi.”Jeritku dalam hati
Isakku
semakin kuat dan membesar, aku tidak menghiraukan siapa yang datang dan terus
menangis disamping kasur ibuku. Ibuku telah diimpus, bagaimana ibuku bisa
membantu mengobatiku yang sedang sakit ? aku juga tengah sakit, tulangku yang
belum beres, mataku yang masih berdarah, dan penyakitku, belum terobati.
“………………”
aku merasakan sentuhan menepuk pundakku.
aku
kemudian menoleh dan melihat senyuman sesosok gadis berambut hitam lebat ,
kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam. Ia tersenyum padaku yang
aku tak tahu makna dari senyuman itu. .
“kau
tidak sopan ya ?”cetusnya menghilangkan lamunku.
“apa
maksudmu ?” suaraku masih bergetar, aku pun menghentikan tangisku.
“kau
pergi tanpa berpamitan denganku dan membuatku penasaran dengan apa yang kau
katakan diujung percakapan kita”
“Oh,
aku hanya tak ingin berbicara lebih
banyak denganmu.”
“oke
tak masalah , sebagai imbalan dari aku yang telah menolongmu. Maka nanti,
jawablah apa yang aku tanyakan padamu”
“Aku
tidak bisa….”
“tidak
bisa ? what the fuck”
“
Kenapa kau marah ? Hey ! jaga omonganmu.”jawaku dengan nada sedikit tinggi
“
kau muslim, tetapi tidak tahu ? HAH ! agama omong kosong belaka. Hanya mencari
sensasi, pangkat dalam dunia, dan apalah ! saran dariku, lebih baik kau
tinggalkan saja agamamu. Menghabiskan waktumu saja, shalat 5 waktu tetapi buat
apa ? Sia-sia saja kau hidup”ketusnya
“Hey
! aku tidak belajar di sekolah beragama. Jadi wajar saja kalau aku tidak tahu,
kalau kamu mau tahu tentang agama ya cari sendiri sana ! saya bukan ustazah.”
“Ustazah
?? oke, oke.. terserah apa itu ustazah. Dan apa itu muslim dan sebagainya”
Perempuan
itu kemudian keluar dari kamar IS. Tampak dari jalannya dia sedang marah dan
tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku merasa bersalah, kenapa aku perlu merasa
bersalah ? Ah tidak , bukanlah urusanku dengannya dan aku tidak mengenalnya.
“tidak
bisa……” aku memandang ibuku dan berfikir sejenak.
Aku
beranjak dari kursi dan berlari menuju perempuan itu, mataku tak menangkap
bayangannya. Terlihat beberapa mobil didepan IS dan pemandangan yang indah
disekitarnya. Aku tidak mendapati wanita itu, aku tidak bisa membiarkan rasa
bersalahku terus mengelabui roh ini. Aku terus berjalan dan sesekali berlari
kecil mencari wanita itu.
“Cari
siapa ?”terdengar suara wanita di belakangku.
“Eh.. Emh anu…. A.. aku… mau mencari nasi
untuk ibuku” Jawabku gugup sembari melihat nasi bungkus yang berada
ditangannya.
“mereka
tak bisa kemari karena ada urusan, aku disuruh datang kemari untuk menemanimu.”
“Oh..kau
saja temani aku untuk beli nasi untuk ibuku !”
“ah..
kau ini bagaimana ? nasi untuk orang sakit kan sudah disiapkan dirumah sakit.
Kau tak pernah kerumah sakit ya?”
“oh
iya ya, hehehe” tawaku malu.
Aku
kemudian terdiam dan menatap jalanan yang kosong, pikiranku juga ikutan kosong.
Ngapain aku dan dia sekarang ?
“Dug….”
Tiba-tiba
tangannya menggenggamku yang sedang termenung dan berjalan tanpa berbicara
apapun. Aku terus bertanya padanya, kemana dia akanmembawaku. Dia tidak
melepaskanku dan tetap berjalan tanpa menghiraukan aku. Aku hanya menuruti langkah
kakinya yang terus berjalan kearah yang tidak bisa dicerna oleh otakku.
Tiba-tiba ia berhenti dan menyuruhku menunggunya didekat warung pinggiran
jalan. Sepertinya itu adalah warung Aceh, dia tahu sekali kalau aku orang Aceh.
Dari mana ?padahal aku tak pernah memberi tahunya. Dia kemudian membeli nasi
bungkus dan kembali menghampiriku.
“ayo
makan !” ajaknya sambil berjalan mendahuluiku
“hei
tunggu ! mau kemana ? “
Dia
tak menjawabku dan terus berjalan , aku menyamakan posisiku dan dia agar tidak
tersesat. Bagaimana bisa dia tega berjalan mendahuluiku sedangkan aku ketakutan
di Negara ini. Dia terus berjalan dan menaiki sebuah tangga dipinggiran
jalan.Tangga ini mengarahkan langkah kaki aku dan dia kearah ujung jalan sebelah
kanan, terdapat beberapa orang sedang berdiri di tengah langit dan bumi di atas
jalan tersebut. Aku tetap mengikutinya dan terus berjalan sambil melihat ke
kanan dan ke kiri. Cantik..bintangnya. Aku terkesan melihat bintang dilangit
berjejeran seakan membentuk sebuah rasi bintang bermakna. Mobil yang berada
dibawah jembatan ini juga indah, udara yang menelusuri pori-poriku membuat
buluku berdiri dan siap untuk bertempur dengan hawa dingin ini. Orang-orang
yang sedang bergerak dibawah jembatan ini seperti sedang memerankan sebuh drama
suatu kisah. Aku masih merasa segan padanya dengan apa yang dikatakannya ketika
aku dan dia berada di rumah sakit. Dia mengajakku untuk mengasingkan diri dari
beberapa orang tersebut untuk makan ditempat ini sambil menikmati pemandangan
yang ada.
“Agamamu
apa ?” tanyaku memecahkan suasana.
“aku
Atheis, orang tuaku berbeda agama. Jadi aku disuruh memilih sendiri agamaku ketika
sudah besar nanti”jawabnya santai dan tak terlihat marah.
“oh..
begitu ya, kalau orangtuamu ?”
“ibuku
islam seperti mu, dan ayahku budha. Ia tidak mengetahui tentang agamanya sama
halnya sepertimu, hanya saja kau dan ibuku berbeda pada kerudung”
“katanya
islam, kenapa gak pakai jilbab ?” tanyaku heran
“kalau
tidak tahu tujuannya untuk apa ngapain dilaksanakan ? Buang-buang diri,
buang-buang tenaga, dan buang-buang waktu. Lagi pula kalau dipikir-pikir rambut
itu mahkota.”
“bukan
mahkota, tapi aurat..
“
Aurat ? “ tatapannya seperti menginginkan penjelasanku.
“sesuatu
yang berharga dan harus ditutupi dan dijaga atas penciptaan yang indah ini”
“………………….”
“Kau
percaya adanya tuhan ? kenapa kau penasaran sekali ? ”
“tentu
! kalau aku bertanya pada diriku siapa yang menciptakan langit dan bumi ? tentu
Tuhan. Akan tetapi, Jika aku amati agama ibuku dan ayahku. Mereka sama-sama
mempunyai alasan bagi agamanya sendiri. Kalau islam tuhannya tidak begitu jelas,
jika Budha mereka menyembah Tuhannya
melalui patung yang diciptakan manusia dan bisa dihancurkan kembali oleh
manusia. Tidak mungkin manusia menciptakan Tuhannya.” jelasnya
“jika
kau ingin mencari kebenaran, cari tahu keduanya. Cari tahu Budha dan islam juga
agama yang lainnya. Kau akan mengetahui mana yang benar dan yang salah”Saranku
sembali beranjak membuang bungkusan nasi.
Dia
meminta padaku agar dia diajarkan tentang islam. Sangat merepotkan, namun aku sangat
senang. Dia mau belajar islam, semoga saja jadi muallaf. Wah ! hebat sekali aku
! Tetapi aku juga belum mengetahui islam secara menyeluruh dan sempurna. Aku
kemudian menatapnya lama dan tersenyum…
“ayo
kita belajar islam bersama ! ☺”
Ia
menatapku heran dan akhirnya tersenyum juga. Tak bisa ku bayangkan, bertemu
seseorang yang atheis dan aku mengajarkannya islam. Aku dan perempuan ini kemudian
kembali kerumah sakit, orangtuanya ternyata telah tiba dirumah sakit. Ia dan
orangtuanya kemudian pergi meninggalkan aku dan ibuku. Ruangan yang sempat
terjadi pertengkaran kecil ini menjadi sepi .
“Umi
sakit apa ? Dimana sakitnya ?”tanyaku agak sedikit malu.
Aku
tidak begitu dekat dengan orang tuaku, masa SMP ku sering aku lewatkan bersama
teman-teman untuk bercanda.. Bukan karena orangtuaku sibuk, namun aku tidak
merasa nyaman dirumah. Orangtua hanya menjelaskan opini mereka dan tidak
menerima penjelasan balik dari anaknya. Ketika di jawab, dibilang membantah.
Namun ketika diam, dikira tidak mendengar. Jadi wajar saja jika aku tidak
begitu terbiasa dengan suasana seperti ini.
“Umi..
Sehat, mungkin tadi pusing setelah itu pingsan”
“Umi.
anak dari orangtua yang tadi itu agamanya atheis lho. Yang kiki ceritain itu,
dia nanya sama kiki kenapa harus pakai jilbab. Karena ibunya islam juga, Cuma
ibunya berbeda dengan kita karena kita menggunakan kerudung. Katanya dia mau
belajar islam, tapi Kiki gak tau banyak tentang islam.”
Ibuku
tersenyum lalu meneteskan airmata.Lalu berkata
“Salahkan
Umi… Ki.Seharusnya dari dulu Kiki masuk pasantren. Dan tidak membiarkan Umi
mengikuti kemauan Kiki untuk masuk ke sekolah tidak beragama dan tterdidik
dengan akhlak yang buruk.”
“Enggak
Ah, Pasantren itu tidak menyenangkan sedikitpun. Bisa-bisa Kiki stress masuk
kesana karena terkurung dan terus-terusan berhadapan dengan buku dan
aktivitas.”
“Tapi harus ! Tamat dari sini harus ke
pasantren ! Umi sudah bicara pada Ayah dan kamu tetap akan di masukkan kedalam
pasanten yang ada disini”
“Aku
tidak mau Umi ! Kenapa dulu selalu memaksa kehendak orang lain ! Bisanya
suruh-suruh saja. Aku yang menjalaninya umi, aku tidak sanggup.. tidak
sanggup…”
Ibuku
terdiam dan meneteskan airmatanya, ibuku memandangku dengan tatapan sedih.
“Sekali
saja Nak.. Umi sayang Kiki, ketika SMP Umi ikuti kemauan Kiki untuk memilih
sekolah semau Kiki dan hasilnya buruk Nak. Belajarlah agama Kiki.. Kamu akan
bahagia didunia dan di akhirat. Bukan untuk Umi, untuk bekal Kiki ketika
meninggal. Tak ada, tak ada lain yang akan dibawa kecuali amal baik. Bukan
harta, bukan teman, bukan umi atau siapapun yang Kiki cintai didunia. Jika Kiki
sudah besar, Kiki harus bisa jadi da’iah dan menyeru islam dengan benar dan
menjadi sosok pahlawan perempuan didunia Islam. Mulai saja dari yang kecil,
kalau mengajarkan seorang Atheis dengan Islam bessaaaar sekali pahalanya ! Umi
akan bangga sekali”
Aku hanya terdiam dan menatap ibuku haru,
hatiku terasa sejuk karena penjelasan ibuku yang begitu lembut dan membuat
keputusanku sedikit berubah.
“Kiki
… Belum tahu. Akan Kiki fikirkan nanti”
Sinar
datang menerangi pandangan gelapku yang diselimuti kelopak mata berbulu panjang
ini. Udara sejuk nan segar menghampiri pori-poriku dan menyentuh kulitku dengan
lembut.. Lembut.. sekali. Sedikit
dingin, aku ingin berselimut.. Tidak ada , tidak ada selimut disini. Akupun
terbangun dari tidurku dan mencari segelas air untukku teguk. Hari ini aku bangun dengan segar, tak
biasanya aku seperti ini. Aku mempunyai firasat baik hari ini, dinginnya AC
membuat aku terkantuk lagi. Aku berjalan menuju meja yang terletak tak jauh
dari kasur tidur di rumah sakit. Meraih 1 gelas air dan meminumnya, ibuku
tampak masih tertidur pulas. Setelah meminum segelas air, aku kemudian tidur
kembali melanjutkan kisah yang menyenangkan antara aku dan ibuku disebuah
tempat yang takku tau tempatnya. Indah sekali, terdapat air terjun dan beberapa
angsa yang dikelilingi kupu-kupu disungai tersebut. Kupu-kupunya juga mengelilingi
pohon hijau yang besar dan subur.Ibuku mengenakan baju putih dan jilbab biru,
jilbab rabbani yang biasa ibuku gunakan.Semuanya terasa nyata, sentuhan ibuku
padaku memang terasa sekali. Aku dan ibuku duduk di dekat sungai ini dan
memakan beberapa makanan yang sangat enak. Banyak sekali makanan yang aku suka
! cokelat, Jus, Roti cokelat… Waw ! aku tak ingin keluar dari mimpiku yang
indah ini. Tak ingin, pokoknya aku tak ingin keluar lagi.. Tetap teruskan lagi
mimpinyaaa !!
“Kiki,
umi pergi dulu ya. Jangan lupa shalat ! mengaji setiap habis magrib dan belajar.
Makan yang teratur ya Kiki. Umi sayang anak umi Putri rizqia suci “
“tunggu
dulu umi … ! umi !!umi……………”
Ibuku
terus berjalan tanpa berbalik kebelakang, aku kemudian memanggil ibuku dan
mengejarnya. Tapi, ibuku tetap terus berjalan… Aku tersandung batu kecil yang
membuatku beralih pandangan ke arah lain. Ibuku ! \aku kehilangan jejak ibuku.
Kemana ibuku pergi ? aku berlari kesekitar hutan dan menarik nafasku dengan
cepat, kencang sekali aku berlari.
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, aku tak tau berasal dari
mana suara itu.Suara itu memenuhi telingaku, membuat kupingku terasa sakit.
Akupun
terhenyak dari tidur ku, mimpi yang indah berubah menjadi sesuatu yang membuat
perasaanku gelisah.Dengan perasaan gelisah, aku membangunkan ibuku yang masih
tertidur.
“umi
… umi… bangun… udah siang”
“umi….
Bangun…”
“Umi……..”
“umi…
bangun dulu ..umi… ! “
Aku
terdiam dan menatap ibuku lama, aku meletakkan kepalaku didada ibuku. Aku tak
mendengar apapun disana. Dimana jantungnya ?
aku
berjalan perlahan, sangat pelan keluar kamar dan meneteskan air mata, apa yang
terjadi dengan ibuku ? Tidak mungkin,
Argghhh…. Hayalan tingkat tinggiku
muncul. Tidak.. tidak… ibuku baik-baik saja. Tiba-tiba air mataku jatuh dan
membuat hatiku semakin risau. Semakin aku mengelak bahwa ibuku tiada, semakin
tersiksa batinku. Aku menutup pintu kamar dan terduduk didepan pintu kamar
rumah sakit. Tiba-tiba dokter datang ingin memeriksa ibuku, aku menghadangnya
dan tidak mengizinkan dokter itu mengambil ibuku.
“dokter..
umi lagi tidur. Dia capek tidak boleh diganggu”hadangku.
“iya,
tapi uminya harus dikasih obat biar dcepat sembuh ya”dokter mencoba melewatiku
“tidak
!!! tidak boleh diganggu ! tidak boleh ada yang masuk satu pun !!!” aku
berteriak dan menahan pintu dengan badanku.
Suster
menarik badanku dan menyuruh dokter lekas masuk.Tangisku semakin besar dan
melengking keseluruh ruangan rumah sakit ini. Suster menarikku dan tidak
mengizinkan aku masuk melihat ibuku. Aku terus memberontak dan berteriak
melihat dokter menutup mata ibuku dan membawanya keruang jenazah.
“hiks…………………………. “
Dunia
seakan memojokkanku, aku seakan tidak berarti lagi didunia ini. Aku kehilangan
ibuku, ibu satu-satunya dan tak akan bisa diganti oleh ibu manapun. Aku masih
mempunyai banyak dosa dan kesalahan pada ibuku. Belum sempat aku mengucapkan
kata maaf dan membahagiakannya. Ya Allah, tempatkanlah ibuku ditempat yang
paling indah. Di tempat ia bisa tersenyum karena amalam baiknya. Kini ia akan
sendiri didalam kubur dan berteman sepi dengan beberapa binatang didalam kubur.
Aku tak bisa membayangkan hidup ibuku kelak, bagaimana kehidupanya sendiri
dibawah tanah. Hilang semua harta, hanya sisa tubuhnya yang dipenuhi ulat
belulat. Jangan siksa ia ya Allah, tolong.. Aku janji akan menjadi anak yang
Sholehah.. Tapi jangan siksa ibuku… Duhai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
“Amin..”
Beberapa
saat kemudian, ayahku dan adikku datang sambil menangis menghampiri ibuku. Aku
yang berada disamping ibuku mengusap airmatanya dan berkata ”tidak apa-apa.
Kita masih punya Ayah..“ aku memeluk adikku dengan erat. Adikku baru berumur 4
tahun dan baru saja masuk TK. Seharusnya aku bersyukur, aku dapat bersama ibuku
dan melihat wajah ibuku selama 16 tahun. Tetapi, aku hanya menyianyiakan
kehadirannya……………………………..







4 komentar: